I'm sorry I wasn't everything you ever wanted.

Thursday, December 26, 2013

Diri Ini

Diri ini milik sang perempuan gembel itu
Tak punya apa
Cuma punya cinta sang setia

Diri ini penuh cela
Penuh lobang di sana sini
Tapi diri ini masih wangi
Jauh dari hamis sang sundal

Diri ini punya cacat
Cacat di hati 
Itu ; 
Dek di robek lelaki jahanam

Diri ini di bodoh bodoh berulang kali
Kerna itu--
Diri ini punya sebesar rasa takut
Yang tersimpan jauh di takuk hati

Diri ini tersemat satu cemburu
Tapi cemburu yang diri ini punya--
Cemburu bermusabab
Bukan cemburu milik sang buta
Yang tuli tuli senang cemburu
Bukan.

Diri ini mudah rapuh
Tangis berderai 
Jiwa berkecai

Diri ini penuh luka
Manusia bertalam dua-- 
Cukup merata di keliling benua
Menghunus si diri ini tanpa simpati
Dianggap kawan dirasa teman
Nah, itu syaitan hakikatnya
Aku benci manusia begini
Penuh pura

Biarpun diri ini tak selengkap bidadari
Tapi harga milik sang diri ini
Tak mungkin bisa dibida
Tidak mungkin sama sekali.

Diri ini kerap menentang
Lantang bila berbunyi
Kerna diri ini tak mahu diderita lagi
Diri ini mahu bahagia miliknya--
Bahagia yang sering dirampas manusia lain.

Diri ini hakikatnya hairan
Apa diri ini yang tidak bisa menjaga bahagianya (Padahal bahagianya dijaga rapi disimpan didalam kotak kecil)
Atau manusia lain yang benaran tamak haloba ?
Manusia tamak boleh pergi jahanam--
Dunia juga tak mahu kalian.

Sunday, October 27, 2013

Hey lelaki bangsat, dengar ini

Aku punya cerita
Perihal lelaki bangsat ;

Merobek jiwa
Menghancur raga
Meranap harapan

Itu kerjanya.

Sang perempuan itu hatinya dibedil
Batinnya dihunus duri bertalu, talu dan talu lagi

Lelaki ini benar benar bangsat.

Ingin aja aku bertentang empat mata
Bersua dua bibir
Ingin aja aku 

Lelaki bangsat persis ini tidak layak menetap di sini

Tidak layak benar.

Ayuh sang perempuan
Ku seru ayuh
Ayuh kita bangkit
Bangkit menentang lelaki bangsat ini 

Kita bunuh aja dia
Kita tikam sekalian para pengikut nya yang turut turutan bangsat

Udah sang perempuan
Keringkan air mata mu
Jangan kita di pijak lelaki bangsat itu
Kita kaum teragung
Harus ingat itu

Ayuh kita tunjukkan cara permainan kita

Kau tunggu, lelaki bangsat
Bila saat sang perempuan sudah kentalkan hatinya
Kau tunggu
Kau tunggu detik derita mu.

Sang perempuan bukan pendendam
Sang perempuan cuma mahu haknya kembali.